Pertanian Gerilya: Siasat Yasalam Menanam Pangan di Lahan Sengketa Tengah Kota
Ketahanan pangan sering kali dianggap sebagai masalah makro yang hanya bisa diselesaikan oleh kebijakan pemerintah di lahan luas pedesaan. Namun, di tengah kepadatan beton dan perebutan ruang di wilayah urban, muncul sebuah gerakan radikal yang disebut sebagai pertanian gerilya. Gerakan ini bukan sekadar hobi berkebun di akhir pekan, melainkan sebuah aksi politik dan edukasi yang dijalankan oleh institusi Yasalam. Mereka memanfaatkan lahan-lahan tidur, area terbengkalai, hingga lahan sengketa di tengah kota untuk diubah menjadi lumbung pangan mandiri yang produktif. Bagi Yasalam, menanam bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol perlawanan terhadap marjinalisasi ruang hijau.
Strategi utama dalam pertanian gerilya adalah adaptabilitas dan kecepatan. Karena status lahan yang sering kali tidak menentu atau berada dalam lahan sengketa, para aktivis dan siswa di Yasalam tidak menggunakan infrastruktur permanen yang mahal. Mereka mengembangkan teknik menanam dalam wadah yang bisa dipindah (mobile farming) serta penggunaan sistem irigasi tetes yang efisien namun sederhana. Hal ini dilakukan agar jika suatu saat akses terhadap lahan tersebut ditutup oleh pihak yang bersengketa, aset tanaman tetap bisa diselamatkan. Pendidikan ini memberikan pelajaran berharga bagi siswa tentang cara bertahan hidup di tengah ketidakpastian hukum dan keterbatasan lahan di kota besar.
Yasalam menekankan bahwa tengah kota seharusnya tidak hanya menjadi hutan beton yang konsumtif. Melalui analisis tanah yang intensif, para siswa diajarkan cara menetralisir polusi tanah akibat limbah industri perkotaan menggunakan metode fitoremediasi sebelum mulai menanam. Tanaman seperti kangkung, bayam, hingga ubi jalar menjadi komoditas utama karena masa panennya yang singkat dan daya tahannya yang kuat. Dalam proses ini, “Siasat Yasalam” menjadi istilah untuk menggambarkan kecerdikan dalam memanfaatkan celah geografis untuk kepentingan publik, membuktikan bahwa pangan sehat bisa dihasilkan dari tempat yang paling tidak terduga sekalipun.
Konsep pertanian gerilya ini juga berfungsi sebagai sarana diplomasi sosial. Sering kali, lahan yang terbengkalai menjadi tempat pembuangan sampah atau sarang kegiatan negatif. Dengan mengubahnya menjadi kebun komunitas, Yasalam melibatkan warga sekitar untuk ikut menjaga dan memanen hasilnya. Hal ini menciptakan rasa kepemilikan kolektif yang secara tidak langsung memberikan perlindungan sosial terhadap lahan tersebut. Siswa belajar bahwa menanam pangan di lahan urban memerlukan kemampuan komunikasi yang baik dengan masyarakat, agar misi kedaulatan pangan tidak berbenturan dengan kepentingan warga lokal, melainkan justru memperkuat hubungan antarwarga.