Membentuk Budi Pekerti: Urgensi Edukasi Karakter untuk Gen Z

Admin/ Mei 30, 2025/ Pendidikan

Generasi Z, yang lahir dan tumbuh di tengah dominasi teknologi digital, memiliki karakteristik unik yang menuntut pendekatan khusus dalam pendidikan. Dalam konteks ini, membentuk budi pekerti menjadi urgensi utama dalam edukasi karakter, bukan sekadar penambahan mata pelajaran, melainkan sebagai fondasi yang kuat untuk menghadapi kompleksitas kehidupan. Pemahaman nilai-nilai moral, etika, dan sosial sangat dibutuhkan agar Gen Z tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan bertanggung jawab.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024 menunjukkan bahwa proporsi Gen Z berusia 15-24 tahun yang belum produktif mencapai sekitar 20,5% dari total populasi usia tersebut. Angka ini, meskipun sedikit menurun dari tahun sebelumnya, tetap menjadi sinyal bahwa upaya membentuk budi pekerti dan kemandirian perlu diperkuat. Selain itu, fenomena “job hopping” atau kecenderungan Gen Z untuk sering berpindah pekerjaan karena ketidakpuasan, serta ketergantungan finansial pada orang tua, menunjukkan perlunya penanaman nilai ketahanan, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini.

Menanggapi hal tersebut, pada hari Senin, 10 Maret 2025, pukul 09.00 WIB, di Pusat Konvensi Jakarta, diselenggarakan Konferensi Nasional Edukasi Karakter Generasi Digital. Acara ini dihadiri oleh 400 peserta, termasuk pendidik, psikolog anak, orang tua, dan perwakilan pemerintah. Dalam pidato pembukaan, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Bapak Dr. Surya Kencana, menyampaikan bahwa membentuk budi pekerti adalah investasi jangka panjang untuk Indonesia maju. Beliau juga mengumumkan program percontohan “Sekolah Berkarakter” yang akan dimulai pada tahun ajaran 2025/2026 di 50 sekolah di seluruh Indonesia.

Strategi untuk membentuk budi pekerti yang efektif pada Gen Z melibatkan beberapa aspek. Pertama, integrasi nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, bukan hanya sebagai teori tetapi melalui praktik nyata. Kedua, peningkatan kapasitas guru dan orang tua dalam menjadi teladan dan fasilitator pembentukan karakter. Pelatihan bagi guru bimbingan konseling dan wali kelas akan digencarkan mulai 1 April 2025, dengan fokus pada pendekatan empati dan komunikasi asertif. Ketiga, pemanfaatan teknologi secara positif untuk mendukung edukasi karakter, seperti aplikasi edukasi nilai moral atau platform diskusi daring yang aman. Dengan sinergi dari semua pihak, diharapkan Gen Z dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki budi pekerti luhur yang kuat, siap menghadapi tantangan zaman.

Share this Post